Aku tak menyangka bakal galau separah ini. Esok aku akan pulang ke Cilacap, bersiap menghadapi Hari Raya Ied, Hari Kemenangan untuk para pemeluk agama Islam. Tapi tak dinyana, tak ada kemenangan bagiku disitu, walau senang hati ini menerima kenyataan bahwa aku tak harus berbohong lebih lanjut kepada ayah dan ibu, tapi aku tak bisa menyangkal bahwa hati ini tercabik juga.
Aku suka dia.
Benar-benar suka padanya.
Kisahku yang selalu menyenangkan dan penuh cinta akhirnya kandas jua. Dengan cara yang sayangnya, cukup menyakitkan. Tak ada konfirmasi dan semuanya berlalu begitu saja. Selesai. Tak ada konflik, klimaks dan antiklimaks-nya. Benar-benar tak ada penyelasaian dan tak ada inisiatif yang signifikan untuk menyelesaikannya. Kemarin aku sempat meyakinkan diriku sendiri agar aku tak jatuh. Tapi, aku cuma seorang perempuan yang baru saja genap berumur 19 tahun. Ternyata aku masih belum sanggup dihadapkan dengan masalah sebesar ini. Masalah yang kian hari aku perumit. Orang tua, agama, cinta, pacar, sahabat, kepercayaan, dan kejujuran. Semuanya terkait satu sama lain.
Oh, aku yakin aku cukup kuat. Aku punya banyak sahabat yang selalu tersedia kapanpun aku butuhkan. Tapi mereka pun sadar. Aku kebas. Mati rasa. Tawaku palsu. Senyumku-pun palsu. Aku tak punya hati. Ragaku memang ikut tertawa bersama kalian tapi, hatiku masih tersimpan aman pada dirinya. Entah sampai kapan bisa kuambil lagi seutuhnya. Kuharap secepatnya. Aku tak tahan berlama-lama larut dalam keterpurukan dan akhirnya sukses menjadi zombie yang malang. Mungkin ini kali pertama aku menjalin hubungan dengan dasar suka sama suka. Mungkin itu pula alasan kenapa aku masih merindunya hingga saat ini. Aku semakin larut dalam cinta yang aku kira menjanjikan, terlalu banyak rencana yang telah kita bentuk untuk masa depan. Dan aku tak tau cara untuk bangkit kembali. Tolonglah, jangan hukum aku seperti ini. Aku tak sanggup lagi.
Aku menyerah.
Benar-benar menyerah.
Untuk segala perjuangan sia-siaku dan segalanya tentangmu.
Tolong selesaikan ini semua. Aku janji ini adalah air mata terakhir. Aku bosan jika harus menguras tenaga untuk memproduksi sejumlah air mata, lalu membuangnya sia-sia, lagi. Cukup. Tak ada sia-sia lagi.
Semua bermula pada malam ini. Aku berjanji akan kembali belajar merangkak, berdiri, dan berjalan mulai dari awal lagi. Tidak dengan siapa-siapa yang mendampingiku. Kau memang seperti candu bagiku. Aku tak sanggup jika tak bersamamu, tapi lama-kelamaan akupun semakin larut dan menjadi semakin tak sehat. Kau tak baik untukku.
Kau tau? Yang aku butuhkan sebenarnya adalah udara. Selalu ada dan selalu baik intukku, tanpa embel-embel apapun dan setia padaku, jujur. Bukan seperti kau, candu. Semuanya terasa jelas setelah aku berkunjung ke moviebox malam ini.
Kau tau? Aku sudah lama tidak menjamah tempat ini. Tidak denganmu beib. Aku memarkirkan motorku ditempat biasa kita parkir, dan tersenyum pada tukang parkir yang biasanya. Aku berkaca pada kaca besar di dekat pintu masuk. Aku berkaca, aku terlihat sangat parau, tidak jika denganmu beib. Kita berkaca bersama lalu tertawa dan melenggang masuk. Suasana didalam juga tidak memperbaiki keadaan. Petugas moviebox yang biasa, menyapa ramah seperti biasa, dan menanyakan tidak biasanya aku lama tak berkunjung kesana, dan tanpa dirimu pula beib. Lubang dimana tempat hatiku berada pun mulai berkedut. Sakit. Aku memilih film, dan tak ada yang cocok dengan suasana hatiku saat itu.
Kau tau? Terlalu, abstrak. Aku memutuskan untuk segera mengakhiri kunjungan singkat itu. Aku berjalan kearah si mio biru. Tak biasanya aku menunggangi mio ke tempat ini.
Kau tau? Diam-diam aku merindukan thunder biru AB711FE. Aku tak sanggup menerima semua kepalsuan ini. Semua terlalu menyakitkan. Terlau, Kau tau? PALSU.
Tukang parkir itupun menanyakan "Udah lama engga nonton disini mbak?"
"Iya, udah engga ada yang nemenin sih pak."
"Masnya udah mudik ya mbak?"
"Engg,, udah engga sama dia lagi pak." Aku sadar mimikku menampilkan muka orang desperate tingkat akut, hingga tukang parkir itu menjawab prihatin.
"Oh, iya. Saya ngerti mbak." Mengangguk tanda mengerti dan tidak membahas lebih lanjut.
Kau tau? Luka itu berkedut lagi, lebih keras dari yang sebelumnya. Aku lantas cepat-cepat tancap gas pulang ke kosan. Aku berputar di jalan dimana kita biasanya berputar, lalu berhenti pada pertigaan biasa. Seorang pengamen kecil datang mengahampiriku, air mataku mulai menggenang siap tumpah setiap saat.
Kau tau? Anak itu, pengamen gendut yang selalu kita ajak ngobrol saat kita berhenti sejenak menantikan lampu hijau. Air mataku pun tumpah. Aku mendongak keatas, mencoba mengurangi intensitas airmata yang tumpah.
Tapi, Kau tau? aku memandang bintang. Banyak sekali bintang. Dan aku sadar.
Tak akan ada lagi bukit bintang.
Bukit itu bukan untuk kita lagi.
Tidak untukku.
Air mataku jatuh semakin deras. Aku tak sanggup melihat jalanan lagi. Semua tampak buram dengan air mata penuh menggenangi pelupuk mataku. Besok aku pulang. Meninggalkan kota ini. Meninggalkan semuanya. Meninggalkanmu. Aku tak menyangka akan semudah ini, dan semenyakitkan ini.
Terlalu banyak kejutan pada bulan Ramadhan ini. Thanks God.
Aku selesai, sayang.
Dan luka itu, berkedut lagi semakin kencang.
Whatever you are, be a good one.
-Abraham Lincoln-
There are two ways to live: you can live as if nothing is a miracle; you can live as if everything is a miracle.
-Albert Einstein-
Aku suka dia.
Benar-benar suka padanya.
Kisahku yang selalu menyenangkan dan penuh cinta akhirnya kandas jua. Dengan cara yang sayangnya, cukup menyakitkan. Tak ada konfirmasi dan semuanya berlalu begitu saja. Selesai. Tak ada konflik, klimaks dan antiklimaks-nya. Benar-benar tak ada penyelasaian dan tak ada inisiatif yang signifikan untuk menyelesaikannya. Kemarin aku sempat meyakinkan diriku sendiri agar aku tak jatuh. Tapi, aku cuma seorang perempuan yang baru saja genap berumur 19 tahun. Ternyata aku masih belum sanggup dihadapkan dengan masalah sebesar ini. Masalah yang kian hari aku perumit. Orang tua, agama, cinta, pacar, sahabat, kepercayaan, dan kejujuran. Semuanya terkait satu sama lain.
Oh, aku yakin aku cukup kuat. Aku punya banyak sahabat yang selalu tersedia kapanpun aku butuhkan. Tapi mereka pun sadar. Aku kebas. Mati rasa. Tawaku palsu. Senyumku-pun palsu. Aku tak punya hati. Ragaku memang ikut tertawa bersama kalian tapi, hatiku masih tersimpan aman pada dirinya. Entah sampai kapan bisa kuambil lagi seutuhnya. Kuharap secepatnya. Aku tak tahan berlama-lama larut dalam keterpurukan dan akhirnya sukses menjadi zombie yang malang. Mungkin ini kali pertama aku menjalin hubungan dengan dasar suka sama suka. Mungkin itu pula alasan kenapa aku masih merindunya hingga saat ini. Aku semakin larut dalam cinta yang aku kira menjanjikan, terlalu banyak rencana yang telah kita bentuk untuk masa depan. Dan aku tak tau cara untuk bangkit kembali. Tolonglah, jangan hukum aku seperti ini. Aku tak sanggup lagi.
Aku menyerah.
Benar-benar menyerah.
Untuk segala perjuangan sia-siaku dan segalanya tentangmu.
Tolong selesaikan ini semua. Aku janji ini adalah air mata terakhir. Aku bosan jika harus menguras tenaga untuk memproduksi sejumlah air mata, lalu membuangnya sia-sia, lagi. Cukup. Tak ada sia-sia lagi.
Semua bermula pada malam ini. Aku berjanji akan kembali belajar merangkak, berdiri, dan berjalan mulai dari awal lagi. Tidak dengan siapa-siapa yang mendampingiku. Kau memang seperti candu bagiku. Aku tak sanggup jika tak bersamamu, tapi lama-kelamaan akupun semakin larut dan menjadi semakin tak sehat. Kau tak baik untukku.
Kau tau? Yang aku butuhkan sebenarnya adalah udara. Selalu ada dan selalu baik intukku, tanpa embel-embel apapun dan setia padaku, jujur. Bukan seperti kau, candu. Semuanya terasa jelas setelah aku berkunjung ke moviebox malam ini.
Kau tau? Aku sudah lama tidak menjamah tempat ini. Tidak denganmu beib. Aku memarkirkan motorku ditempat biasa kita parkir, dan tersenyum pada tukang parkir yang biasanya. Aku berkaca pada kaca besar di dekat pintu masuk. Aku berkaca, aku terlihat sangat parau, tidak jika denganmu beib. Kita berkaca bersama lalu tertawa dan melenggang masuk. Suasana didalam juga tidak memperbaiki keadaan. Petugas moviebox yang biasa, menyapa ramah seperti biasa, dan menanyakan tidak biasanya aku lama tak berkunjung kesana, dan tanpa dirimu pula beib. Lubang dimana tempat hatiku berada pun mulai berkedut. Sakit. Aku memilih film, dan tak ada yang cocok dengan suasana hatiku saat itu.
Kau tau? Terlalu, abstrak. Aku memutuskan untuk segera mengakhiri kunjungan singkat itu. Aku berjalan kearah si mio biru. Tak biasanya aku menunggangi mio ke tempat ini.
Kau tau? Diam-diam aku merindukan thunder biru AB711FE. Aku tak sanggup menerima semua kepalsuan ini. Semua terlalu menyakitkan. Terlau, Kau tau? PALSU.
Tukang parkir itupun menanyakan "Udah lama engga nonton disini mbak?"
"Iya, udah engga ada yang nemenin sih pak."
"Masnya udah mudik ya mbak?"
"Engg,, udah engga sama dia lagi pak." Aku sadar mimikku menampilkan muka orang desperate tingkat akut, hingga tukang parkir itu menjawab prihatin.
"Oh, iya. Saya ngerti mbak." Mengangguk tanda mengerti dan tidak membahas lebih lanjut.
Kau tau? Luka itu berkedut lagi, lebih keras dari yang sebelumnya. Aku lantas cepat-cepat tancap gas pulang ke kosan. Aku berputar di jalan dimana kita biasanya berputar, lalu berhenti pada pertigaan biasa. Seorang pengamen kecil datang mengahampiriku, air mataku mulai menggenang siap tumpah setiap saat.
Kau tau? Anak itu, pengamen gendut yang selalu kita ajak ngobrol saat kita berhenti sejenak menantikan lampu hijau. Air mataku pun tumpah. Aku mendongak keatas, mencoba mengurangi intensitas airmata yang tumpah.
Tapi, Kau tau? aku memandang bintang. Banyak sekali bintang. Dan aku sadar.
Tak akan ada lagi bukit bintang.
Bukit itu bukan untuk kita lagi.
Tidak untukku.
Air mataku jatuh semakin deras. Aku tak sanggup melihat jalanan lagi. Semua tampak buram dengan air mata penuh menggenangi pelupuk mataku. Besok aku pulang. Meninggalkan kota ini. Meninggalkan semuanya. Meninggalkanmu. Aku tak menyangka akan semudah ini, dan semenyakitkan ini.
Terlalu banyak kejutan pada bulan Ramadhan ini. Thanks God.
Aku selesai, sayang.
Dan luka itu, berkedut lagi semakin kencang.
Whatever you are, be a good one.
-Abraham Lincoln-
There are two ways to live: you can live as if nothing is a miracle; you can live as if everything is a miracle.
-Albert Einstein-






4 komentar:
remember what 'KUNGFU PANDA (Master Oww)' said!
"Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is God's Gift.
That's why we call it the present."
Well, done. You're the winner. Believe it, Babe.. You're not alone. I'm here. Phie in here. Friend of mine (HOHO).
just forget it and next step for your life..
Give me smile..
Setuju ama kea jeng!!!!
dunia ini masih akan terus berputar walau dia gak ada disisi. Kamu pun bakal terus bisa bernafas bukan? walau kini masih tersengal.
semua ini cuma sebuah kebiasaan, saat kamu telah terbiasa dengan ketakhadirannya, suatu saat kamu akan mentertawakan ini smua. percayalah
Ham.. Manda sudah tertawa. HAHAHA, mari ikut tertawa...
gag nyangka.
cepet banget buatku buat ketawa keBAHAK-BAHAK ham.
at least, lebaran kemaren ge dah bener2 ketawa mpe terkencing-kencing.hahahaha
thanks all.
nice to have all of yu pal.
Posting Komentar